oleh

Dimakan, Kandidat Mati Tidak Dimakan, Partai Mati

Editor : Rakyat Sulsel.Com-Berita-

Buah Simalakama di Piring Keluarga SYL-IA

RAKYAT SULSEL — POLITIK itu pilihan. Apa jadinya jika pilihan itu diperhadapkan pada situasi bertolak-belakang, mendukung keluarga yang maju kandidat Pilkada atau mengikuti instruksi partai politik?. Bak buah simalakama. Dimakan kandidat mati, tidak dimakan partai mati.

Ada dua figur Cagub, Syahrul Yasin Limpo (SYL) dan Ilham Arief Sirajuddin (IAS). Mereka sudah pasti berhadapan di Pilgub Sulsel 2013 mendatang. SYL dengan Partai Golkar dan IAS dengan Demokrat. Lalu, bagaimana dengan pilihan Adnan Purichta Ichsan Yasin Limpo dan Andi Rachmatika Dewa?. Adnan adalah legislator Partai Demokrat yang juga ponakan SYL. Sementara Andi Rahmatika Dewi adalah politisi Golkar, sekaligus ponakan IAS. Situasi serupa juga dirasakan politisi PAN, Buhari Qahhar Mudzakkar yang harus ‘berseberangan’ dengan adik kandungnya, Aziz Qahhar Mudzakkar.

Antara Adnan dan Rahmatika sama-sama mengaku dilematis dengan situasi ini. Menurut mereka pilihan antara keluarga dengan partai adalah dua pilihan yang berat. Bimbang, memilih partai atau keluarga.

Adnan berada dalam posisi dilematis, dan boleh dikata tidak memberi keuntungan bagi dirinya.
“Di satu sisi, saya adalah kader Demokrat, di sisi lain SYL adalah paman saya,” ujarnya saat menanggapi pilihan partai atau keluarga, kemarin.

Dia juga mengatakan bahwa, posisi dilematis yang dialaminya ini, harus dijalankan secara profesional, karena menganggap, posisi dilematis tersebut, tidak sejalan dengan tujuan hidupnya untuk tetap konsisten dalam sebuah pilihan. “Saya sudah pikirkan kemana saya berpijak, karena ini hidup saya, dan semua itu sudah saya sikapi secara profesional,” tandas anak kandung Bupati Gowa, Ichsan Yasin Limpo ini.

Serupa, Rahmatika Dewi berada di posisi sama. Tudingan bahwa dirinya tidak mendukung sepenuhnya SYL sebagai calon gubernur dari Partai Golkar dibantahnya. Legislator Makassar ini profesional 100 persen mendukung Partai Golkar, apapun itu kebijakannya.

“Sejauh ini apapun instruksi partai, saya selalu menjalani sepenuhnya, meskipun ada yang bilang bahwa tidak mungkin mendukung calon Golkar karena mempunyai hubungan kerabat dengan Ilham (IAS), tetapi saya tetap pada komitmen dengan partai,” aku Rahmatika kepada Rakyat Sulsel, kemarin.

Sebagai kader, tentunya dia punya tanggungjawab kepada partai dan tidak boleh mendua.” Waktu deklarasi Pak Syahrul saya juga turun lapangan sebagai koordinator. Keluarga besar saya juga selalu mengingatkan saya untuk tidak keluar dari koridor, khususnya dalam partai,” tandasnya.

Mengenai hubungannya dengan IAS, Rahmatika tidak menampik bahwa dirinya juga tetap memberikan dukungan kepada pamannya itu. “Namun bentuk dukungan yang bisa saya berikan hanya sebatas doa dan dukungan moril saja sebagai keluarga. Sejauh ini, dalam keluarga besar saya, belum ada sindiran terkait dengan sikap politik saya. Apalagi Pak Ilham itu adalah seorang politisi yang tentunya mengerti dengan posisi saya sebagai kader Partai Golkar,” papar Rahmatika.

Situasi yang sama juga diperhadapkan Buhari Qahar Muzaddkar. Kakak kandung Aziz Qahhar Mudzakkar ini mengaku posisinya sebagai politisi PAN tidak dapat dipisahkan dari garis darah suadara yang mengalir dalam tubuhnya. Kendati demikian, anggota DPRD Sulsel ini tetap bersikap profesional memilih partainya.

“Saya ini memang politisi PAN, namun saya harus bersikap proaktif dan profesional dalam mengambil sikap,” tandasnya.

Selaku kader PAN, saat ini partainya belum mengeluarkan sikap. Yang jelas dirinya juga menyatakan akan mendukung kebijakan partai yang pro dengan rakyat. “Partai pun kan tidak dapat besar kalau tidak didukung oleh rakyat. Partai harus lihat juga suara rakyat,” terangnya.

Dirinya juga sudah siap  mengikuti instruksi partai, kalaupun disana (IA) itu ada saudaranya yang siap berkompetisi di Pilgub 2013 mendatang. “Saya ini harus bersikap profesional dalam bersikap, sehingga apapun nantinya akan saya lakukan semuanya itu menjadi sikap saja,” ucapnya.

Kalaupun nantinya PAN akan memilih SYL, ketimbang IA, dirinya akan tetap berada  pada instruksi partai dan tidak sedikit pun akan lari dari instruksi, karena ini dinamika, maka dirinya akan tetap konsisten di PAN.(RS1-RS6/al/E)

Komentar