oleh

Sukhoi-100, Dicoba Langsung Hilang

Editor : Rakyat Sulsel.Com-Berita, HL-

Nasib 46 Penumpang Tidak Jelas

RAKYAT SULSEL — Pesawat Sukhoi Superjet 100 yang hilang di sekitar wilayah Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/5) siang adalah pesawat penumpang baru yang dibuat oleh Rusia untuk kembali menghidupkan industri penerbangan nasionalnya.Jika pesawat yang hilang itu terbukti mengalami kecelakaan, itu akan menjadi pukulan besar bagi Sukhoi, produsen Superjet, karena perusahaan itu baru mulai memproduksi pesawat komersial tahun lalu.SSJ 100 hingga kini baru dioperasikan oleh dua maskapai yakni Aeroflot dari Rusia dan Armavia milik Armenia. Pesawat itu pertama kali digunakan oleh Armavia pada April 2011, lalu diikuti oleh Aeroloft di tahun yang sama.Pesawat itu pernah bermasalah ketika dioperasikan oleh Aeroflot, maskapai penerbangan Rusia yang memang ditekan oleh pemerintahnya untuk lebih banyak menggunakan pesawat buatan Rusia.Bulan Maret lalu misalnya, sebuah pesawat SSJ 100 harus memangkas jadwal penerbangannya setelah bermasalah dengan roda. Pesawat perdana yang digunakan oleh Aeroflot juga dilarang terbang selama beberapa pekan karena bermasalah dengan pendingin udara (AC).

Superjet sendiri merupakan sebuah proyek kerjasama antara Sukhoi dan perusahaan penerbangan Italia, Alenia Aeronautica. SSJ 100, yang dirancang untuk membawa 98 orang penumpang dan tergolong dalam pesawat dengan jarang tempuh menengah, merupakan pesawat yang dikembangkan untuk bersaing dengan Embraer dari Brazil dan Bombardier dari Kanada.

Demonstrasi penerbangan di Tanah Air merupakan bagian dari tur “Welcome Asia” yang dimulai 3 Mei silam dan dimulai dari Astana, Kazakhstan. Sebelum tiba di Halim Perdana Kusuma, Jakarta, pesawat itu juga sempat singgah di Pakistan dan Myanmar.

Selain itu kedatangan SSJ 100 ke Jakarta juga berkaitan dengan pemesanan 12 unit pesawat oleh PT Sky Aviation, sebuah maskapai penerbangan Indonesia dan pengiriman pesawat itu rencananya mulai dilakukan pada 2012.

Sukhoi adalah produsen pesawat utama Rusia yang didirikan pada tahun 1930an di masa Uni Soviet. Perusahaan yang terkenal dengan jet tempurnya mempekerjakan 26.000 orang dan bermarkas di Komsomolsk, Amur.

Pesawat Sukhoi berjenis Superjet 100 hilang kontak di kawasan Bogor, Jawa Barat. Pesawat diketahui hilang kontak sekitar pukul 15.30 WIB. Pesawat penumpang berbendera Rusia tersebut, diketahui terakhir mengontak traffic control Bandara Soekarno-Hatta. Saat itu, pilot pesawat memberitahukan jika pesawat sedang terbang di ketinggian 10.000 kaki di atas wilayah Bogor.

Pilot meminta izin untuk menurunkan pesawat hingga ketinggian 6000 kaki, dan kemudian hilang kontak. Pesawat Sukhoi Superjet 100, merupakan pesawat yang akan ditawarkan ke maskapai penerbangan Indonesia dan tengah melakukan tes terbang. Pesawat itu take off dari Bandara Halim Perdana Kusumah.

Pesawat Sukhoi SG100 yang diduga jatuh berisi 46 penumpang, termasuk awak. Sebagian penumpang merupakan perwakilan kedutaan Rusia dan pebisnis yang sedang mencoba pesawat baru tersebut. “Pesawat itu membawa 46 penumpang dan itu pesawat yang sedang dicoba oleh pebisnis dan beberapa orang dari Kedutaan Rusia,” kata Humas Kementerian Perhubungan, Bambang S Ervan, Rabu (9/5).

Bambang mengungkapkan dari laporan yang diterima, pesawat tersebut sedang dalam uji coba untuk terbang selama 30 menit mengelilingi wilayah Bogor, setelah lepas landas dari Bandara Internasional Halim Perdanakusuma. “Pesawat hilang kontak sekitar pukul 16.00 sore, yang seharusnya sudah mendarat kembali ke Halim Perdanakusuma,” kata Bambang. Ia juga mengungkapkan pesawat terbang landas sekitar pukul 14.00.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memrediksi pesawat Sukhoi Superjet 100 yang hilang kontak sudah hampir kembali mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta.
Senior Investigator Kecelakaan Transportasi Udara KNKT Mardjono Siswosuwarno mengatakan pihaknya sudah mndapat kabar bahwa pilot pesawat Sukhoi Superjet 100 yang hilang kontak ini sempat meminta izin mengurangi ketinggian menjadi 6.000 kaki dari 10.000 kaki. “Jika sudah meminta izin ke pihak air traffic control (ATC) hingga ketinggian 6.000 kaki, mensyaratkan bahwa pesawat itu sudah hampir mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma,” kata Mardjono.

Dia menambahkan dengan ketinggian 6.000 kaki, pesawat masih aman untuk terbang di ruang udara sekitar Gunung Salak, kecuali jika posisi pesawat di arah selatan Gunung Salak, Bogor. “Kalau 6.000 kaki di sekitar Gunung Salak masih aman, tetapi kalau adanya di posisi selatan Gunung Salak, baru tidak aman,” tuturnya.(int)

Kronologis

14.00 WIB
Pesawat take off ke Pelabuhan Ratu.

14.12 WIB
Take off kembali.

14.33 WIB
Pesawat lost contact

Insiden Sukhoi Superjet100:

1. 6 Mei 2012, SSJ-100 keluar dari landasan pacu saat mendarat di Bandara Kazan, Rusia.
2. 16 Maret 2012, pesawat jet harus putar balik dan kembali ke Moskow.
3. 25 Desember 2011, penerbangan SSJ-95, yang merupakan modifikasi superjet, dari Minsk, Belarusia, dibatalkan karena kegagalan landing gear.

Komentar