oleh

Habis Manis, Apiaty Dibuang

Editor : Rakyat Sulsel.Com-Berita, HL-

RAKYAT SULSEL — PASCA kabar pengunduran dirinya merebak di media, Asisten IV Bidang Administrasi Umum Setda Kota Makassar Apiaty Kamaluddin kembali beraktivitas di ruang kerjanya di Menara Balai Kota Makassar, kemarin. Benarkah istri mantan Gubernur Amin Syam ini mengundurkan diri atau diminta mundur oleh atasannya?. Hmmm…Habis manis, Apiaty dibuang.
Apiaty dikenal sebagai pamong senior. Talentanya di bidang pemerintahan dan organisasi sudah tak diragukan. Beragam jabatan dan organisasi dipimpinnya. Bicara loyalitas, dia  konsisten.
Walau menolak untuk berbicara, Apiaty menerima Rakyat Sulsel dengan senyuman.  “Maaf adik, saya puasa bicara. Kalau mau muat, beritakan saja aktivitas saya di ruangan ini,” pintanya.
Sudah sembilan tahun dia mengabdi di Pemkot Makassar, dan itu bukan waktu yang singkat. “Selama itupun, saya tetap berinteraksi dengan Pak Wali (Ilham  Arief Siradjuddin, Red),” sambungnya.
Sebagai seorang PNS, Apiaty harus hormat kepada atasannya, baik itu kepada wali kota  dan gubernur.  Kebetulan  keduanya  tengah  dalam proses persiapan menjadi calon Gubernur Sulsel Periode 2013-2018.
Disadarinya, posisi sebagai istri mantan Gubernur Sulsel, Amin Syam, bisa berpeluang untuk di posisi pada situasi  politik, yang bisa jadi tidak nyaman pada salah satu pihak. “Saya  sayang  sama walikotaku. Saya  hormat  kepada  gubernurku,” ujarnya.
Di tempat terpisah, Wali Kota Ilham Arief Sirajuddin menanggapi dingin beraktivitasnya kembali bawahannya tersebut. “Pemerintahan harus terus disemangati. Jangan hanya karena satu masalah, semuanya menjadi terganggu. Masyarakat sangat butuh pelayanan,” ucapnya usai tampil sebagai narasumber seminar FKKKS SD Kota Makassar.
Disebut-sebut sebagai pihak yang mmeintanya mundur, Ilham meluruskan, sebenarnya jika mendalami administrasi pemerintahan dengan baik tidak perlu ada polemik. “Saya tahu beliau (Apiaty, Red) juga sangat paham ini. Beliau adalah salah satu pamong senior yang sudah banyak menelan pahit manisnya pemerintahan. Jadi Insya Allah semua akan baik-baik saja, dan hari ini beliau juga bekerja seperti biasa,” terangnya.
Polemik mundurnya, Apiaty mendapat tanggapan dari pengamat politik UIN Alauddin, Firdaus Muhammad. Di sisi politis, Apiaty adalah korban politik. Pertemuannya dengan Syahrul Yasin Limpo di Bajo, Barru belum lama ini mengundang kecurigaan.
“Apiaty menjadi korban politik. Kasihan beliau di ujung pengabdiannya sebagai PNS harus bersoal dengan hal-hal seperti itu,” ujarnya.
Menurut Firdaus, pilihan Apiaty untuk mundur dari jabatannya, bukanlah keputusan yang tepat. Seharusnya, dia lebih bisa menahan diri, sehingga tidak terjebak dalam kondisi yang tidak menguntungkan baginya.
“Pilihan untuk mundur kurang tepat bagi Apiaty. Sebaiknya, ia bisa menahan diri agar tidak menjadi komoditas politik,” pungkasnya.
Sehari sebelumnya, Apiaty bicara blak-blakan terkait dengan isu mundurnya dari jabatan sebagai Asisten IV Pemkot Makassar. Selama mengemban tugas sebagai Asisten IV Pemkot Makassar, dia sudah tidak merasakan kenyamanan kerja dan merasa telah dizalimi. Selain itu, Apiaty mengaku selama ini dia tidak pernah dilibatkan dalam setiap pengambilan kebijakan yang bersifat strategis. Apalagi saat membicarakan masalah mutasi pejabat yang sudah berlangsung dua kali dalam tiga bulan terakhir.
Puncaknya ketika Apiaty dipanggil menghadap Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin, di ruang kerja Wali Kota, Selasa (8/5) lalu. Ibu dari tiga anak ini mengaku sangat menyayangkan keputusan Ilham yang melakukan mutasi didasarkan atas hasil konsultasi dengan pihak keluarga dan kerabat, bukan atas hasil kajian Baperjakat. Meski Apiaty menegaskan belum mengundurkan diri, Namun Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin tetap menyatakan bahwa Apiaty telah mengundurkan diri meski belum mendapat surat resmi pengunduran dirinya. Ilham juga mengakui bahwa ia memanggil Apiaty menghadap untuk memberitahukan soal rencana mutasi.(RS4/al/E)

Komentar